Selasa, 23 Februari 2010

Sosial Budaya Prov Sulawesi Tengah


Ibukota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut. Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 12 kelompok etnis atau suku, yaitu:

Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala dan kota Palu;
Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Donggala;
Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso;
Etnis Amona berdiam di kabupaten Poso;
Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali;
Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali;
Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai;
Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai;
Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan;
Etnis Buol mendiami kabupaten Buol;
Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli dan
Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong.

Dari 12 kelompok/ etnis tersebut, Jumlah tokoh pemangku adat adalah sebanyak 216 orang.

Di samping 12 kelompok etnis, ada beberapa suku terasing hidup di daerah pegunungan seperti suku Da’a di Donggala, suku Wana di Morowali, suku Seasea di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.

Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan masyarakat Bugis dan Makasar serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur. Jumlah penduduk di daerah ini sekitar 2.128.000 jiwa yang mayoritas beragama islam, lainnya Kristen, Hindu dan Buddha. Tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur dan tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.

Secara tradisional, masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu ivo (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan kaum wanita.
Unsur-unsur adat dan budaya yang masih dimiliki antara lain:

Pakaian adat terbuat dari kulit kayu ivo;
Rumah adat yang disebut tambi;
Upacara adat;
Kesenian (Modero/ tari pesta menyambut panen, Vaino/ pembacaan syair-syair yang dilagukan pada saat kedugaan, Dadendate, Kakula, Lumense dan PeuleCinde/ tari untuk menyambut tamu terhormat, Mamosa/ tarian perang, Morego/ tari menyambut pahlawan, Pajoge/ tarian dalam pelantikan raja/ pejabat dan Balia/ tarian yang berkaitan dengan kepercayaan animisme).

Selain mempunyai adat dan budaya yang merupakan ciri khas daerah, di Sulawesi Tengah juga memiliki kerajinan-kerajinan yang unik juga yaitu:

Kerajinan kayu hitam (ebony);
Kerajinan anyaman;
Kerajinan kain tenun Donggala; dan
Kerajinan pakaian dari kulit ivo.
Secara Umum kondisi keber-agamaan Tahun 2005 yang dianut oleh masyarakat terdiri dari:

Masyarakat penganut Agama Islam dengan tingkat persentase sebesar 78,9%;
Masyarakat penganut Agama Kristen Protestan dengan tingkat persentase sebesar 16,29%;
Masyarakat penganut Agama Kristen Katolik dengan tingkat persentase sebesar 1,47%;
Masyarakat penganut Agama Hindu dengan tingkat persentase sebesar 3,07%;
Masyarakat penganut Agama Buddha dengan tingkat persentase sebesar 0,68%. Keberagaman pemeluk agama di Sulawesi Tengah di komunikasikan melalui Forum Komunikasi Antar Umat Beragama yang berfungsi mendinamisir kerukunan kehidupan antar umat beragama, intern umat beragama dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah, dengan pola saling menghargai antar satu sama lainnya.

Sumber :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=6105&Itemid=1831

Sumber Gambar:
http://www.cyberdharma.net/v2/images/stories/news/sulteng.jpg

Pertumbuhan Ekonomi Sulteng Diyakini Capai Tujuh Persen

Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) HB Paliudju optimistis daerahnya mampu mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas tujuh persen seperti yang dicapai pada dua tahun terakhir.

"Tahun 2008, pertumbuhan ekonomi kita mencapai 7,67 persen sedangkan tahun 2009 turun sedikit menjadi 7,66 persen. Tahun 2010 ini kita optimistis minimal bisa mempertahankannya," katanya saat memberikan sambutan pada musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) sektor kelautan dan perikanan di Palu, Selasa (23/2).

Ia berharap sektor kelautan dan perikanan akan memberikan kontribusi yang lebih besar tahun ini sehubungan dengan naiknya dana alokasi khusus (DAK) sektor kelautan dan perikanan sebesar 150 persen, belum termasuk dana-dana lainnya dari APBN dan APBD provinsi dan kabupaten/kota. Sementara itu, laporan Bank Indonesia Palu menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Sulteng 2010 masih prospektif meski diprediksi akan mengalami pelambatan pada tiga bulan pertama tahun ini.

Selama triwulan I 2010, PE Sulteng diperkirakan hanya akan tumbuh 4,86 persen, lebih rendah dari triwulan sama tahun 2009 yang mencapai sekitar lima persen. Pertumbuhan ekonomi masih akan bersumber dari konsumsi rumah tangga. Masih kuatnya konsumsi rumah tangga ini tercermin dari hasil survei konsumen pada bulan Desember 2009 yang mencatat indeks ekspektasi konsumen (IEK) mencapai 126,67 persen atau di bawah level optimistis.

Secara sektoral, ekonomi Sulteng akan didorong oleh pertumbuhan sektor pertanian termasuk perikanan dan kelautan. Kinerja sektor pertanian pada awal tahun 2010 ini akan lebih baik sehubungan dengan akan tibanya musim panen raya padi di Kabupaten Parigi, Poso dan Banggai.

Sementara itu, Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng Hasanuddin Atjo mengatakan, pihaknya akan menaikkan produksi sektor perikanan budidaya sekitar 28 persen pertahun dalam lima tahun ke depan dan perikanan tangkap sekitar 10 persen.

Peningkatan produksi ini diperkirakan akan mampu menggerakkan ekonomi daerah, terutama di tingkat desa karena desa akan dijadikan simpul-simpul utama kegiatan sektor kelautan dan perikanan dalam upaya meningkatkan produksi dan kesejahteraan masayarakat. (Ant/OL-06)

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/23/125048/128/101/Pertumbuhan-Ekonomi-Sulteng-Diyakini-Capai-Tujuh-Persen
23 Februari 2010

Peta Sulteng


View Larger Map

Pelangi di Kota Palu


Palu adalah ibukota dari Propinsi Sulawesi Tengah yang terletak tepat di ujung Teluk Palu dan berada di lembah Palu. Palu dapat di jangkau dengan menggunakan pesawat yang terbang langsung dari Makassar, Balikpapan, Surabaya dan Manado. Bandara Mutiara Palu saat ini dapat didarati pesawat jenis Boeing MD82, 737, Foker, dan beragam peswawat kecil lainnya. Maskapai yang melayani trayek ke bandara Mutiara adalah; Lion, Wing, Merpati, dan Batavia, sedangkan untuk jalur ke kabupaten (Banggai, Luwuk dan Buol) dilayani oleh Merpati dan Trigana dengan pesawat Casa 212. Pengunjung yang menggunakan jalur laut dapat berlabuh di Pelabuhan Pantoloan yang berjarak 22 km dari kota. Trayek kapal Pelni yang singgah di Pantoloan antara lain; Dobonsolo, Umsini, Nggapulu, dan Tidar. Sedangkan untuk jalur darat bisa ditempuh dari Manado atau Makassar dengan waktu tempuh lebih dari 20 jam.

Dibanding kota propinsi lainnya, Palu termasuk yang masih sepi dari hingar-bingar seperti kota besar pada umumnya, banyak pertokoan tutup disiang hari dan buka lagi jam 4 sore s/d 10 malam, dihari libur lebih banyak lagi toko yang tutup. Angkutan kota juga belum ada jurusan tetap, penumpang harus menyampaikan tujuannya tiap kali akan naik angkutan umum yang oleh masyarakat setempat disebut dengan "taxi" ini. Sedang taxi yang sebenarnya disebut dengan taxi argo.

Pengendara tetap harus berhati-hati walau jalanan masih belum terlalu banyak oleh lalu-lalang kendaraan, mengingat tingginya angka kecelakaan di Palu. Ini dikarenakan etika berkendara masyarakatnya yang masih kurang disiplin, sering mengabaikan marka jalan, jarang menggunakan lampu sign saat belok, berhenti dan memotong jalan, dll. Banyaknya binatang peliharaan (sapi & kambing) yang berkeliaran di jalanan juga membahayakan para pengendara kendaraan bermotor, hal serupa banyak dijumpai di jalan-jalan luar kota dan daerah Sulawesi Tengah pada umumnya.


Sumber :
Thony Irawanto
http://www.mudamandiri.com/rubrikview.php?
id=188&topik=3&hal=1&ss=b9eb6acdf8e0548ed28c5322a0c6d4c0
1 Juli 2007

Membangun Pariwisata Kota Palu, Sulawesi Tengah


View Larger Map
Kota Palu sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Tengah memiliki kekayaan potensi kebudayaan dan pariwisata yang tidak kalah menarik dengan daerah lain di Indonesia. Palu, yang dikenal sebagai kota lembah secara geografis dan topografinya, merupakan kota tiga dimensi yang wilayahnya terdiri dari pesisir pantai, daratan, dan perbukitan. Inilah yang menjadi salah satu ciri khas Kota Palu, sehingga tak salah oleh sebagian turis asing yang telah berkunjung ke daerah ini menjuluki Kota Palu sebagai “ the paradise under the ecuator “ atau surga di bawah garis khatulistiwa.
Kawasan obyek wisata yang dimiliki oleh Kota Palu sesuai karakter geografisnya, terdiri dari obyek wisata pantai, obyek wisata lembah / daratan dan obyek wisata perbukitan. Potensi obyek wisata pantai Teluk Palu yang memanjang dari wilayah Palu Barat, Palu Timur hingga ke Palu Utara, sangat cocok dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari, Lembah Palu yang dibelah oleh Sungai Palu, juga tak kalah menariknya untuk dikembangkan menjadi salah satu kawasan wisata air di Sungai Palu, selain situs – situs sejarah yang dapat dikemas menjadi obyek wisata sejarah dan religi. Sebut saja misalnya, Banua Oge atau Sou Raja, Makam Dato Karama, Kompleks Perguruan Alkhairaat, Makam Pue Njidi, Dayo Mpoluku, dan sebagainya. Di wilayah perbukitan seperti Ngata Baru, Padanjese, Bangalana, dan lain – lain, dapat pula dikemas menjadi obyek wisata alam yang indah mempesona.

Selain sektor pariwasata, Kota Palu juga dikenal memiliki ragam seni budaya tradisi dan kreasi yang bila ini dikemas secara baik, digelar secara rutin sesuai kebutuhannya, pun akan menjadi sebuah kekayaan kearifan lokal yang dapat meningkatkan apresiasi, kecintaan masyarakat terhadap seni budayanya, sehingga timbul rasa memiliki, menjaga dan melestarikannya, sekaligus menarik minat para wisatawan untuk mengunjungi Kota Palu. Masyarakat Kota Palu yang multi kultur, multi etnis dan multi karakter, juga menjadi salah satu daya pikat tersendiri dari Kota Palu. Di kota yang berjulukan “Bumi Tadulako” ini, berdiam berbagai etnis pendatang, selain etnis Kaili sebagai orang Palu asli. Ada etnis Bugis, Makassar, Mandar, Menado, Sangir, Banjar, Jawa, Sunda, Bali, Padang, dan berbagai etnis lainnya, mereka hidup secara berdampingan, saling menghargai, bersatu dalam ikatan silaturahmi antar etnis, dalam satu rasa “penduduk Palu”. Ini yang mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia.

Inilah modal besar yang dimiliki oleh Kota Palu untuk membangun sektor kebudayaan dan pariwisata sebagai asset daerah. Membangun kebudayaan dan pariwisata boleh dikatakan gampang – gampang susah. Karena intinya adalah “membangun karakter untuk menciptakan daya pikat”. Namun demikian, tak ada yang tidak bisa dilakukan, bila didukung oleh kemauan yang kuat serta finansial yang memadai.

Membangun kebudayaan dan pariwisata, sama dengan ketika kita menjual sebuah produk. Produk yang kita jual bukanlah barang instan, tetapi kita buat sendiri, dengan bahan kita sendiri, lalu kita racik sedemikian rupa tanpa meninggalkan taste / rasa dan aroma orisinilnya. Bila metode itu kita gunakan, yakin dan pasti banyak pembeli produk kita. Karena jelas produk itu tidak mungkin ada di daerah lain.

Pembangunan sektor kebudayaan dan pariwisata tidak bisa hanya dilakukan dengan sebuah konsep di belakang meja. Perlu action, gerakan nyata yang tidak gegabah, ber-andai-andai, spekulasi tanpa perhitungan, apalagi kalau kita menghayal “bagaimana kalau kita seperti Bali? Coba kalau kita bisa seperti Jogja? Pada akhirnya waktu kita hanya habis kita gunakan untuk menghayal. Biarlah Bali dengan kemasyhurannya, itulah anugerah Tuhan bagi mereka, karena memang mereka terlebih dahulu bangun dari tidurnya. Jangan kita berkiblat pada Jogja, karena karakter dan tingginya budaya Jawa telah mereka miliki sejak zaman Kerajaan Mataram. Palu adalah diri kita sendiri, karakter kita sendiri, keunikan yang kita miliki sendiri, eksotika itu tidak mungkin orang lain dapatkan di Tanah Toraja, Tepian Danau Toba, Bukitinggi, dan lain-lain, adanya hanya di Kota Palu.

Kalau boleh kita jujur, ketika kita ditanya oleh orang lain tentang budaya dan pariwisata yang menjadi icon, ciri khas daerah kita, wajah ini seolah kita balikkan ke belakang untuk menjawabnya malu – malu. Apa yang akan kita andalkan? Apa salah satu yang kita sebutkan ketika orang lain bertanya? Sudah benarkah jawaban kita? Sesuai fakta-kah cerita kita? Ketika kita pulang melancong dari negeri orang, dari penganan kecil sampai cerita perjalanan, bila kita tulis mungkin akan menjadi sebuah buku “wisataku”. Ketika sampai di Palu, seorang kawan bertanya pada kita, “darimana lama tidak kelihatan?” singkat kita menjawab “dari Bali”, lalu kawan kita pasti bertanya “ sempat jalan – jalan ke Kuta?”….. “bapak dari Jogja rupanya, pasti belanja di Malioboro”, seterusnya dan selanjutnya, begitulah kisah sederhananya. Lalu, saya tidak perlu bertanya “baru pulang dari Palu ya? Kemudian bingung untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya?.

Membangun pariwisata dan kebudayaan, kita jangan “maruk” kata orang Jawa, “nangoa” kata orang Kaili, “serakah” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Memang semua menjadi skala prioritas, tetapi langkah yang tepat, satu per satu, taktis, strategis dan tepat sasaran, itu yang teramat penting.

Daerah lain saat ini sedang berlomba – lomba untuk menjadi DTW ( Daerah Tujuan Wisata ) di Indonesia atau yang lebih umum dikenal sebagai daerah destinasi, menciptakan Sadar Wisata dalam masyarakat untuk mewujudkan Sapta Pesona. Apakah Kota Palu tidak bergairah untuk itu? Atau cukup saja mempesona bagi masyarakatnya sendiri?
Tak perlu kita saling menyalahkan apalagi saling mengkritisi tanpa solusi yang sederhana untuk pemecahan masalah ini. Benang merah itu masih membentang, perlahan tapi pasti, putuskan benang merah itu agar terbuka pandangan kita bersama, tergerak hati kita bersama, tekad bersama untuk membangun kebudayaan dan pariwisata Kota Palu yang kita banggakan ini.

Jangan pernah ada kata “itu tugasnya pemerintah”. Sekali kita mengeluarkan kata seperti itu, berarti kita-lah yang “tukang perintah” dan sudah pasti tidak mau menerima perintah. Perintah membangun kebudayaaan dan pariwisata sebagai karakter bangsa, bukan dari seorang pemimpin, tapi yang memerintah dan menjadi pimpinan adalah diri kita sendiri. Pertanyaan sederhana, suka-kah kita dengan musik tradisi “Kakula”? Atau ketika musik itu dibunyikan, kita malah berlalu sambil berceloteh “aahh…ribut! Itu kuno! Orang tua dulu punya!” dan sebagainya.

Keberhasilan pembangunan kebudayaan dan pariwisata adalah menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan pembangunan kebudayaan dan pariwisata, jangan bekerja sendiri karena merasa sebagai penyusun program, kuasa pengguna anggaran, penanggung jawab anggaran, dan lain-lain jabatan birokrasi yang diembannya. Para seniman dan budayawan, organisasi kesenian, juga jangan merasa hebat sendiri, karena secara teknis merasa lebih pintar bagaimana mengemas karya, bagaimana me-manage pertunjukan, yang pada akhirnya kehidupan seni budaya itu stagnan, berjalan di tempat, monoton, dan penontonnya itu-itu saja.

Secepatnya mari kita hilangkan paradigma dan tradisi lama kita membangun seni budaya. Jangan berkesenian karena kedekatan dengan “yang di atas”, berkarya karena pesanan, mencipta karena ada hajatan “bos”, berlatih karena ada lomba, festival, pertunjukan di Jakarta, tour ke Bali, dan sebagainya, tetapi terus meneruslah mengolah cipta, rasa dan karsa.

Bangsa ini telah diikat dengan sebuah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda – beda tetapi satu jua. Demikianlah yang perlu direnungkan untuk dijadikan modal dasar dalam membangun pariwisata dan kebudayaan Kota Palu. Duduk bersama dalam “Libu” pertemuan, mengedepankan slogan “nosarara nosabatutu” ( bersaudara, senasib sepenanggungan ), agar terwujud “Maliu Ntinuvu” ( Hidup sejahtera berkesinambungan).

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palu, Dewan Kesenian Palu sebagai mitra pemerintah (bukan pelaku kesenian, tetapi lembaga aspirasi organisasi kesenian ke pemerintah), para stakeholder, serta para pelaku seni, seniman dan budayawan, itulah yang mulai saat ini harus se-arah pandang dan tekad untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan kebudayaan dan pariwisata Kota Palu. Melibatkan pihak ketiga / investor, para pakar sesuai bidangnya, juga salah satu strategi yang tidak boleh dipandang sebelah mata, apalagi kalau sudah mengedepankan perhitungan – perhitungan fee persen pekerjaan, Pasti duluan fee-nya daripada wujud infrastruktur pendukung wisata budaya yang dibangun.

Sekali lagi, mungkin sulit untuk menyamakan persepsi dari berbagai karakter? Tetapi itulah tantangan untuk kemajuan, karena pariwisata dan budaya memiliki karakter yang berbeda – beda sebagi ciri dan keunikannya.

Semoga berhasil atas bimbingan dan ridha dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin..


Sumber :
Kahar Palloe
Pelaku, pemerhati seni budaya tradisi khususnya di daerah Sulawesi Tengah. Bekerja di Taman Budaya Sulawesi Tengah. Menulis menjadi salah satu kesukaan.
http://wisata.kompasiana.com/2010/01/30/membangun-pariwisata-kota-palu-di-sulawesi-tengah/
30 Januari 2010

Kota Palu


Daerah Palu merupakan sebuah kota sekaligus ibukota Propinsi Sulawesi Tengah. Palu terletak sekitar 1.650 Km di sebelah Timur laut Jakarta. Penduduknya berjumlah 309.364 jiwa dimana 154.207 jiwa adalah pria dan 155.157 jiwa adalah wanita. Pendidikan masyarakat setempat yang mayoritas lulusan sekolah tingkat atas 30,6 persen, dapat dijadikan ukuran bahwa aktivitas ekonomi di kota ini lebih dominan pada bidang jasa.

Kontribusi sektor jasa-jasa lainnya mencapai 29,41 persen pada pembentukan PDRB atau senilai dengan Rp 603 milyar lebih atas dasar harga konstan 2000. Salah satu bentuk jasa lainnya selain APBD adalah banyaknya koperasi yang beroperasi di kota ini. Jumlah total koperasi di kota ini mencapai 309 unit dan terkonsentrasi di Kecamatan Palu Selatan dan Palu Timur.

Pengembangan bawang merah di Sulawesi Tengah terfokus di Kawasan Lembah Palu, yang mencakup Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi (pemekaran baru dari Kabupaten Donggala). Kawasan Lembah Palu secara geografis merupakan satu kesatuan agro ekosistem lahan kering dangan curah hujan terbatas, dan kesatuan kondisi fisik wilayah. Kawasan ini mempunyai keseragaman kegiatan ekonomi pertanian untuk pengembangan bawang merah, antara lain; budidaya tanaman, kelembagaan dan budaya pertanian, industri kecil pengolahan hasil, rantai pasok dalam pemasaran, pelayanan penyuluhan, dan permodalan.

Secara keseluruhan potensi lahan pengembangan pertanian di Kabupaten Donggala seluas 23.221 Ha (termasuk Kabupaten Sigi) dan Kota Palu seluas 15.964 Ha. Dari areal pertanian tersebut yang cukup potensial untuk pengembangan bawang merah seluas 5.050 Ha, namun areal produksi eksisting baru mencapai 1.386 Ha (tahun 2007). Pada tahun 2007 produksi bawang merah di kawasan ini sebanyak 4.736 ton berasal dari Kota Palu 1.176 ton dan Kabupaten Donggala 3.560 ton. Bawang merah yang dikembangkan merupakan spesifik daerah untuk keperluan bawang goreng, merupakan varietas lokal Palu, Palasa, dan Tinombo, namun varietas yang banyak dikembangkan adalah varietas Palu.

Kontribusi ekonomi kedua berasal dari aktiviatas industri pengolahan dengan kontribusi 13,61 persen dari PDRB. Klasifikasi industri yang beroperasi di Kota Palu adalah industri aneka 608 unit usaha, industri logam, elektronik dan kimia 837 unit usaha dan industri hasil pertanian dan kehutanan 1.063 unit. Industri aneka telah menyerap 2.684 pekerja sedangkan industri logam, elektronik dan kimia menyerap 3.190 pekerja. Adapun industri pengolahan hasil pertanian mampu menyerap 7.455 orang pekerja.

Aktivitas ekonomi terbesar ketiga dari sektor perdagangan hotel dan restoran. Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB mencapai 13,27 persen. Perdagangan di Kota Palu lebih dominan pada perdagangan antar pulau dan ekspor. Perdagangan ini dilakukan melalui pelabuhan laut Pantolan. Total nilai yang tercipta dari eskpor melalui pelabuhan ini mencapai US $ 168,6 juta sedangkan nilai impor mencapai US $ 5,4 juta. Artinya terjadi surplus perdagangan sebesar US $ 8 juta. Untuk akomodasi penginapan, Kota Palu menyediakan 3 hotel berbintang dan 56 hotel non bintang dan mampu menampung 1.824 tamu dalam semalam.

Ke depan, daerah Palu dan sekitarnya perlu fokus pada pembangunan sektor pertanian. Namun pembangunan pertanian itu harus berorientasi pada pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam secara optimal, sehingga azas pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan merupakan sebuah keniscayaan dalam menerapkan kebijakan pembangunan pertanian.

Pengembangan pertanian, khususnya tanaman dan hortikultura bisa dianggap bermata dua. Disatu sisi akan memberikan manfaat, penghasilan, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, menyediakan pangan sehat, lapangan kerja, dan mencegah urbanisasi. Tapi pada sisi lain, jika pembangunan pertanian ini tidak dikelola dengan baik dan profesional, tanpa memperhatikan daya dukung sumber daya alam yang ada, bisa merusak kelestarian sumber daya alam, mencemari lingkungan, menimbulkan eksternalitas lingkungan masyarakat, hingga tidak menjamin keberlanjutan pemanfaatan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu pemanfaatan sumberdaya alam dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan tidak hanya sekedar perlu memperhatikan aspek ekonomis semata, tapi harus dipadu dengan kepentingan ekologis jangka panjang. Mengingat apa yang kita peroleh sekarang, pada dasarnya adalah meminjam warisan generasi yang akan datang.


Sumber :
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kota+Palu

Sumber Gambar:
Fotografer: bayu paracella
Topik: Sudut Kotaku
http://kfk.kompas.com/sfkphotos/2009/05/19/kota-palu-19335

Selayang Pandang Kota Palu


Kota Palu awalnya adalah kota kecil yang menjadi pusat kerajaan Palu. Setelah penjajahan Belanda maka kerajaan ini merupakan bagian dari wilayah kekuasaan, Onder Afdeling Palu. Onder Afdeling Palu membawahi 3 Landschap yakni :

A. Landschap Palu yang terdiri dari :
Distrik Palu Timur
Distrik Palu Tengah
Distrik Palu Barat


B. Landschap Kulawi
C. Landschap Sigi Dolo

Pada saat Perang Dunia II sekitar tahun 1942 Kota Donggala sebagai ibukota Afdeling Donggala dihancurkan baik oleh pasukan Sekutu maupun Jepang sehingga pusat pemerintahan dialihkan ke Palu sekitar tahun 1950, yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 tahun 1950 menjadi wilayah daerah Sulawesi Tengah dan berkedudukan di Poso, sedangkan Kota Palu hanya merupakan tempat kedudukan Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) setingkat Wedana. Lebih jauh Kota Palu berkembang setelah dibentuknya Residen Koordinator Sulawesi Tengah Tahun 1957 membuat status Kota Palu menjadi Ibukota Karesidenan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 tahun 1964 dengan terbentuknya Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah, telah memberi arti dan peran yang lebih baik bagi Kota Palu karena menjadi Ibukota Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah.

Dengan semakin besarnya peran kota ini dalam bidang pemerintahan dan pembangunan, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1978 maka Kota Palu di tetapkan menjadi Kota Administratif.

Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1994 telah dibentuk Kotamadya Daerah Tingkat II Palu yang mempunyai Wilayah meliputi :
Kota Administratif Palu
Sebagian wilayah Kecamatan Tavaili


Secara administratif Wilayah Kota Palu terdiri dari :

Kecamatan Palu Utara
Kecamatan Palu Timur
Kecamatan Palu Barat
Kecamatan Palu Selatan

Secara Administratif, Kota Palu adalah ibukota Propinsi Sulawesi Tengah, yang dibagi dalam 4 (empat) kecamatan dan 43 kelurahan. Kota Palu dengan wilayah seluas 395,06 kilometer persegi (Gambar 1.1 Luas Wilayah Kota Palu dibagi dalam empat kecamatan), berada pada kawasan dataran lembah Palu dan teluk Palu yang secara asrtronomis terletak antara 0º,36” - 0º,56” Lintang Selatan dan 119º,45” - 121º,1” Bujur Timur, tepat berada di bawah garis Katulistiwa dengan ketinggian 0 - 700 meter dari permukaan laut.

Penduduk

A. Jumlah Penduduk

Hasil Proyeksi SUPAS tahun 2008 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Palu mencapai 309.032 jiwa. Dari jumlah tersebut terdapat 6 jiwa penduduk warga negara asing (WNA).


B. Kepadatan Penduduk

Seiring dengan mening- katnya jumlah penduduk, maka tingkat kepadatan penduduk juga mengalami peningkatan. Kepadatan penduduk Kota Palu keadaan akhir tahun 2008 tercatat 782 jiwa/km², dengan luas wilayah Kota Palu 395,06 km².

Bila dilihat penyebaran penduduk pada tingkat kecamatan, ternyata Kecamatan Palu Selatan merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi yaitu 1.797 jiwa/km², sedangkan Kecamatan Palu Timur merupakan wilayah yang terjarang penduduknya yaitu sebanyak 373 jiwa/km².


C. Rasio Jenis Kelamin

Rasio jenis kelamin di Kota Palu pada tahun 2008 adalah sebesar 98 yang berarti setiap 100 penduduk perempuan terdapat 98 penduduk laki-laki atau jumlah penduduk perempuan relatif lebih besar daripada penduduk laki-laki. Pada tingkat kecamatan, Palu Barat mempunyai rasio jenis kelamin tertinggi, yaitu 99 persen, Palu Selatan 98 persen, Palu Utara 97 persen, dan terendah Palu Timur sebesar 96 persen.


D. Komposisi Umur Penduduk

Komposisi atau struktur umur penduduk Kota Palu selama tahun 2008 hampir 70,00 persen berada pada kelompok umur 0-34 tahun, hal ini menunjukkan bahwa penduduk Kota Palu berada pada kelompok penduduk usia muda.

Dengan melihat perbandingan jumlah penduduk yang berusia non produktif dengan penduduk usia produktif dapat diketahui besarnya angka ketergantungan pada tahun 2008 yaitu sebesar 0,40 artinya bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif (15-64 tahun) menanggung sebanyak kurang lebih 40 orang penduduk usia tidak produktif (0-14) tahun dan 65 tahun ke atas.


Sumber :
http://www.palukota.go.id/content.php?id_content=17

Sumber Gambar:
http://sulteng.bps.go.id/palu/Image/palu1.jpg