Minggu, 21 Februari 2010

Sejarah Banggai

Sekitar abad ke-13, masa pada masa keemasan kerajaan Singosari yang berpusat di jawa Timur, ketika itu Singosari di bawah kekuasan terakhir dan terbesar yaitu Kertanegara ( 1268-1292 ), nama Banggai telah di kenal dan menjadi bagian kerajaan Singaosari.

Berikutnya, sekitar abad 13-14 Masehi pada masa kerajaan Mojopahit yang juga berpusat di Jawa Timur, ketika tampuk pemerintahan di pegang raja terbesar Mojopahit bernama Hayam Wuruk ( 1351-1389 ) saat itu kerajaan Banggai sudah dikenal dengan sebutan "BENGGAWI"dan menjadi bagian kerajaan Mojopahit.

Bukti bahwa kaerajaan Banggai sudah di kenal sejak zaman Mojopahit dengan nama Benggawi setidaknya dapat di lihat dari apa yang telah di tulis seorang pujangga Mojopahit yang bernama Mpu Prapanca dalam bukunya"Negara Kartagama" buku bertarikh caka 1478 atau tahun 1365 Masehi,yang dimuat dalam seuntai syair nomor 14 bait kelima sebagai berikut "Ikang Saka Nusa-Nusa Mangkasara,Buntun Benggawi,Kuni,Galiayo,Murang Ling Salayah,Sumba,solor,Munar,Muah,Tikang,I Wandleha,Athawa Maloko,Wiwawun ri Serani Timur Mukadi Ningagaku Nusantara".(Mangkasara = Makasar, Buntun = Buton, Benggawi = Banggai, Kunir = Pulau Kunyit,Salayah = Selayar, ambawa = Ambon,Maloko = Maluku ). Hayam Wuruk ingin mempersatukan Nusantara lewat sumpah Palapa yang di ucapkan sang Pati Gajah Mada.Dengan sumpah tersebut Hayam Wuruk makin terkenal dengan programnya mempersatukan Nusatara.

Di daerah yang sekarang kita kenal sebagai Kabupaten Banggai pernah bediri kerajaan-kerajaan kecil.Yang tertua bernama kerjaan bersaudara Buko dan Bulagi.letak kerajaan Buko dan Bulagi berada di pulau Peling belhan barat.Kemudian muncul keajaan-kerajaan baru seperti, Kerajaan Sisipan, Kerajaan Lipotomundo, dan Kadupadang.Semuanya beada di pulau Peling bagian tengah (sekarang kecamatan Liang).Sementara di bagian pulau Peling sebelah timur (sekitar Kecamatan Totikum dan Tinangkung) waktu itu telah berdiri kerajaan yang agak besar yakni kerajaan Bongganan.

Upaya unntuk memekarkan kerjaan Bongganan dilakukan Pangeran dan beberapa bangsawan kerajaan akhirnya membuahkan hasil bila sebelumnya wilayah kerajaan banggai hanya meliputi pulau Banggai, kemudian dpat diperlebar.

Di Banggai Darat ( kabupaten Banggai, waktu itu sudah berdiri Kerajaan Tompotika yang berpusat di sebelah utara ( Kecamatan Bualemo ) bagian Selatan kerajaan tiga bersaudara Motiandok, Balaloa, dan Gori-Gori.

Perkembangan Kerajaan Banggai yang ketika itu masih terpusat di Pulau Banggai, mulai pesat dan menjadi Primus Inter Pares atau yang utama dari beberapa kerajaan yang ada, sewaktu pemerintahan Kerajaan Banggai berada di bawah pembinaan Kesultanan ternate akhir abad 16.

Wilayah Kerajaan Banggai pada tahun 1950-an hanya meliputi Pulau Banggai, kemudian diperluas sampai ke Banggai Darat, hingga ke Tanjung Api, Sungai Bangka dan Togung Sagu yang terletak di sebelah Selatan Kecamatan Batui. Perluasan wilayah Kerajaan Banggai dilakukan oleh Adi Cokro yang bergelar Mumbu Doi Jawa pada abad ke-16. Istilah " Mumbu Doi" berarti yang wafat atau mangkat, khusus dipakai untuk raja-raja Banggai yang tertinggi derajatnya.

Adi Cokro adalah bangsawan dari Pulau Jawa yang mengabdikan diri kepada Sultan Baab-Ullah dari Ternate. Di tangan Adi Cokro kerajaan-kerajaan Banggai mampu dipersatukan hingga akhirnya ia dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banggai. Adi Cokro tercatat pula sebagai orang yang memasukkan agama Islam ke Banggai. hal tersebut sebagaimana ditulis Albert C. Kruyt dalam bukunya De Vorsten Van Banggai ( Raja-raja Banggai).

Adi Cokro bergelar Mumbu Doi Jawa, yang dalam dialeg orang Banggai disebut Adi Soko, mempersunting seorang wanita asal Ternate berdarah Portugis bernama Kastellia ( Kastella). Perkawinan Adi dengan Kastellia melahirkan putra bernama Mandapar yang kemudian menjadi Raja Banggai. Istilah " Adi" merupakan gelar bangsawan bagi raja-raja Banggai, hal tersebut sama dengan gelar RM ( Raden Mas) untuk bangsawan Jawa atau Andi bagi bangsawan bugis.

Karena Kerajaan Banggai dikenal Oleh Kerajaan Ternate, sementara Kerajaan Ternate ditaklukan Bangsa Portugis, otomatis Kerajaan Banggai berada dibawah kekuasaan Bangsa Portugis. Bukti, itu setidaknya dapat dilihat dengan ditemukannya sisa-sisa peninggalan Bangsa Portugis di daerah ini di antaranya meriam kuno atau benda peninggalan lainnya.

Tahun 1532 P.A. Tiele pernah menulis dalam bukunya De Europeers in Den maleischen Archipel, di sana disebutkan, bahwa pada tahun 1532. Laksamana Andres De Urdanette yang berbangsa Spanyol merupakan sekutu ( kawan ) dari Sultan Jailolo, pernah mengunjungi wilayah sebelah Timur Pulau Sulawesi ( Banggai ). Andres de Urdanette merupakan orang barat pertama yang menginjakan kaki di Banggai. Sedang orang Portugis yang pertama kali datang ke Banggai bernama Hernando Biautemente tahu 1596.

Tahun 1956 Pelaut Belanda yang sangat terkenal bernama Cornelis De Houtman datang ke Indonesia. Menariknya, pada tahun 1594 atau dua tahun sebelum datang ke Indonesia Cornelis De Houtman sudah menulis tentang Banggai.

ketika Adi Cokro ynag bergelar Mumbu Doi Jawa, kembali ke tanah Jawa dan wafat disana, tampuk Kerajaan Banggai dilanjutkan oleh Mandapar dengan gelar Mumbu Doi Godong. Mandapar dilantik sebagai Raja Banggai pada tahun 1600 di Ternate oleh Sultan Said Uddin Barkat Syah.

Tahun 1602 Belanda datang ke Indonesia dan mendirikan Vereeniging Oast Indische Compagnie ( VOC ) yang merupakan Kongsi Dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Timur ( Indonesia ).

Kesaksian salah seorang pelaut bangsa Inggris bernama David Niddeleton yang pernah dua kali datang ke Banggai menyebutkan. Pengaruh VOC di Banggai sudah ada sejak Raja Mandapar memimpin Banggai. Kerajaan Banggai pernah dikuasai Ternate. namun setelah Kerajaan Ternate dapat ditaklukan dan direbut oleh Sultan Alaudin dari Kerajaan Gowa ( Sulawesi Selatan ) maka Banggai ikut menjadi bagian dari Kerajaan Gowa. Dalam sejarah tercatat Kerajaan Gowa sempat berkembang dan mempunyai pengaruh yang sangat besar dan kuat di Indonesia Timur.

Kerajaan Banggai berada di bawah pemerintahan Kerajaan Gowa berlangsung sejak tahun 1625-1667. Pada tahun 1667 dilakukan perjanjian Bongaya yang sangat terkenal antara Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa melepaskan semua wilayah yang tadinya masuka dalam kekuasaan Kerajaan Ternate seperti Selayar, Muna, Manado, Banggai, Gapi ( Pulau Peling ), Kaidipan, Buol Toli-Toli, Dampelas, Balaesang, Silensak dan kaili.

Pada saat Sultan Hasanuddin dikenal sebagai raja yang sengit melawan Belanda. Bentuk perjuangan yang dilakukan Hasanuddin ternyata memberikan pengaruh tersendiri bagi Raja Banggai ke-4, yakni Raja Mbulang dengan gelar Mumbu Doi Balantak ( 1681-1689 ) hingga Mbulang memberontak terhadap Belanda.

Sebenarnya Mbulang Doi Balantak menolak untuk berkongsi dengan VOC lantaran monopoli dagang yang terapkan Belanda hanya menguntungkan Belanda sementara rakyatnya di posisi merugi. Tapi apa hendak dikata, karena desakan Sultan Ternate yang menjadikan Kerajaan Banggai sebagai bagian dari taklukannya, dengan terpaksa Mbulang Doi Balantak tidak dapat menghindar dari perjanjian yang dibuat VOC ( Belanda ).

Tahun 1741 tepatnya tanggal 9 November perjanjian antara VOC dengan Mbulang Doi Balantak diperbarui oleh Raja Abu Kasim yang bergelar Mumbu Doi Bacan. Meski perjanjian telah diperbaharui oleh Abu Kasim, tetapi secara sembunyi - sembunyi Abu Kasim menjalin perjanjian kerjasama baru dengan Raja Bungku. Itu dilakukan Abu Kasim dengan target ingin melepaskan diri dari Kerajaan Ternate. Langkah yang ditempuh Abu Kasim ini dilakukan karena melihat beban yang dipikul oleh rakyat Banggai sudah sangat berat karena selalu dirugikan oleh VOC. Tahu raja Abu Kasim menjalin kerjasama dengan Raja BUngku, akhirnya VOC jadi berang ( marah ). Abu Kasim lantas ditagkap dan dibuang ke Pulau Bacan ( Maluku Utara ), hingga akhirnya meninggal disana.

Usaha Raja - raja Banggai untuk melepaskan diri dari belenggu Kerajaan Ternate berulang kali dilakukan. dan kejadian serupa dilakukan Raja Banggai ke-9 bernama Antondeng yang bergelar Mumbu Doi Galela ( 1808 - 1829 ).Serupa dengan Raja-raja Banggai sebelumnya, Antondeng juga melakukan perlawanan kepada Kesultanan Ternate. Sebenarnya perlawanan Anondeng ditujukan kepada VOC ( Belanda ). Karena Antondeng menilai perjanjian yang disebut selama ini hanya menguntungkan Hindia Belanda dan menjepit rakyatnya. Karena itulah Antondeng memberontak. Karena perlawanan kurang seimbang, Antondeng kemudian ditangkap dan dibuang ke Galela ( Pulau Halmahera ).

Setelah Antondeng "dibuang" ke Halmahera, Kerajaan Banggai kemudian dipimpin Raja Agama, bergelar Mumbu Doi Bugis. Memerintah tahun 1829 - 1847. Raja Agama sempat melakukan perlawanan yang sangat heroik dalam perang Tobelo yang sangat terkenal. Tetapi Kerajaan ternate didukung armada laut yang "modern" akhirnya mereka berhasil mematahkan perlawanan Raja Agama. pusat perlawanan Raja Agama dilakukan dari "Kota Tua" banggai ( Lalongo ). Dalam perang Tobelo, raja Agama sempat dikepung secara rapat oleh musuh. Berkat bantuan rakyat yang sangat mencintainya, Raja Agama dapat diloloskan dan diungsikan ke wilayah Bone Sulawesi Selatan, sampai akhirnya wafat di sana tahun 1874.

Setelah Raja Agama hijrah ke Bone, munculah dua bersaudara Lauta dan Taja. Kepemimpinan Raja Lauta dan Raja Taja tidak berlangsung lama. Meski hanya sebentar memimpin tetapi keduanya sempat melakukan perlawanan, hingga akhirnya Raja Lauta dibuang ke Halmahera sedang Raja Taja diasingkan ke Pulau Bacan, Maluku Utara.

Dalam Pemerintahan Kerajaan Banggai, sejak dulunya sudah dikenal sistem demokrasi. Dimana dalam menjalankan roda pemerintahan Raja akan dibantu oleh staf eksekutif atau dewan menteri yang dikenal dengan sebutan komisi empat, yaitu :

1. Mayor Ngopa atau Raja Muda


2. Kapitan Laut Kepala Angkatan Perang


3. Jogugu atau Menetri Dalam Negeri


4. Hukum Tua atau Pengadilan

Penunjukan dan pengangkatan komisi empat, dilakukan langsung oleh Raja yang tengah bertahta. Sementara badan yang berfungsi selaku Legislatif disebut Basalo Sangkap. Terdiri dari Basalo Dodonung, Basalo Tonobonunungan, Basalo Lampa, dan Basalo Ganggang.

Basalo Sangkap diketuaioleh Basalo Dodonung, dengan tugas melakukan pemilihan setipa bangsawan untuk menjadi raja. Demikian pula untuk melantik seorang raja dilakukan di hadap[an Basalo Sangkap. Basalo sangkap yang akan melantik raja, lalu akan meriwayatkan secara teratur sejarah raja- raja Banggai. Berurut kemudian disebutkanlah calon raja yang akan dilantik, yang kepadanya akan dipakaikan mahkota kerajaan. Dengan begitu, raja tersebut akan resmi menjadi Raja Kerajaan Banggai.

Silsilah raja-raja Banggai disebutkan sebagai berikut :

1. Mandapar dengan gelar Mumbu Doi Godong
2. Mumbu Doi Kintom
3. Mumbu Doi Balantak
4. Mumbu Doi Benteng
5. Mumbu Doi Mendono
6. Abu Kasim
7. Mumbu Doi Pedongko
8. Manduis
9. Antondeng
10. Agama
11. Blauta
12. Taja
13. Tatu Tanga
14. Saok
15. Nurdin
16. Abdul Azis
17. Abdul Rahman
18. Haji Awaludin
19. Haji Syukuran Aminuddin Amir


Sumber :
http://luwuk.co.id/index.php/luwuk-inside/42-sejarah-luwuk-sejarah-banggai-luwuk-tempo-dulu/65-sejarah-kabupaten-banggai-dan-kota-luwuk-.pdf

Warga Banggai Deklarasikan Bergabung ke Maluku Utara

Sedikitnya dua ribu warga di Banggai Kepulauan atau Bangkep, Minggu (22/6), tumpah ruah di lapangan Beringin, kota Banggai. Mereka mendeklarasikan penggabungan diri dengan wilayah Maluku Utara dan menyatakan memisahkan diri dari Sulawesi Tengah.

Mereka menilai selama ini Provinsi Sulawesi Tengah idak pernah peduli terhadap rakyat Banggai. Deklarasi ini juga dilakukan sebagai penolakan warga terhadap keputusan Mahkamah Konsitutusi yang menetapkan Salakan sebagai ibukota Kabupaten Banggai Kepulauan.

Deklarasi pemisahan diri dari Provinsi Sulawesi Tengah dibacakan sejumlah tokoh adat, masyarakat dan tokoh pemuda di hadapan ribuan warga Banggai, yang rela berdiri di bawah terik panas matahari. Puluhan poster menghiasai deklarasi tersebut. Di antara poster itu ada yang bertuliskan “Maluku Utara Yes, Sulteng No, Sultim Bohong”.

Selain membacakan deklarasi penggabungan diri dengan Maluku Utara, warga mengusung sebuah spanduk putih sepanjang 100 meter untuk tanda tangan sebagai wujud dukungan warga. Tak hanya itu, warga mulai mengumpulkan foto kopi KTP dan tanda tangan di sebuah kertas pernyataan yang menyatakan kerelaan bergabung dengan Maluku UTara.

Tokoh pemuda Bangkep, Rizal Arwi, di hadapan ribuan warga mengatakan penggabungan diri Banggai ke Maluku Utara bukan tanpa alasan. Secara historis, katanya, antara kerajaan Bangai dan kerajaan Ternate memiliki hubungan kekerabatan yang tidak bisa dinafikan hingga saat ini. Alasan itulah yang memperkuat dorongan masyarakat Banggai bergabung dengan Maluku Utara.

Bahkan, dalam deklarasi tersebut, para deklator terlibat komunikasi lewat telepon genggam dengan Sultan Ternate. Dalam perbincangan tersebut, Sultan Ternate menyikapi aspirasi warga Banggai dengan mendesak agar mereka segera membentuk delegasi untuk bertemu Sultan Ternate.

Menurut Rizal, Pada tahun 1600, raja-raja kecil yang berasal dari tanah Jawa, antara lain Raja Adi Cokro, yang datang ke Banggai bahkan sempat memimpin rakyat Banggai untuk kurun waktu puluhan tahun.

Namun, saat raja Adi Cokro kembali ke tanah Jawa, rakyat Banggai kehilangan pemimpin yang disegani dan dipercaya. Maka, Raja Adi Cokro mengutus anaknya, Abu Kasim, yang berada di Banggai untuk bertemu saudaranya di Ternate, Maula Frans Mandapar, untuk datang memimpin rakyat Banggai. Sejarah itulah yang membuat hubungan kuat antara Banggai dan Ternate.

Rakyat Banggai merasa tidak memiliki hubungan kuat dengan Sulawesi Tengah, yang dinilai terus mengeruk hasil kekayaan Banggai dan tidak pernah peduli dengan rakyat yang terus hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Para deklarator menyatakan penolakan pembentukan provinsi Sulawesi Timur.

Mereka menganggap Provinsi Sulawesi Timur hanyalah angan-angan kosong yang jual para elit yang kalah dalam pentas politik di Sulawesi Tengah.

Meski ada iming-iming pemekaran Banggai Laut sebagai kabupaten sendiri, warga tetap menyatakan penolakan. “Tidak ada pilihan lain, selain bergabung dengan Maluku Utara. Betapapun sulitnya jalan terebut ditempuh, rakyat Banggai tetap akan bergababung dengan Maluku Utara,” para deklarator berseru. Darlis M.


Sumber :
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2008/06/22/brk,20080622-126309,id.html
22 Juni 2008

Profil Kabupaten Banggai



Wilayah Banggai merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota di Luwuk, daerah ini berbatasan dengan Teluk Tomini di utara, Selat Peling di selatan, Kabupaten Poso dan Kabupaten morowlai di barat, dan Kabupaten Banggai Kepulauan di timur. Luas wialyah daerah ini adalah 9.673 Km2. Kabupaten Banggai terbagi menjadi 8 Kecamatan.

Daerah ini memiliki motto Monsu ani tano yanng artinya gemar menanam, karean pertanian telah menjadi pemasok terbesar kegiatan ekonomi daerah ini. Kabupaten ini merupakan penghasil beras kedua setelah Kabupaten Donggala di Sulawesi Tengah. Di samping tanaman bahan makanan, hasil perkebunan rakyat seperti kelapa dalam, jambu mete, kopi robusta, cengkeh, kakao, kelapa hibrida, dan lada. Untuk komoditi ekspor daearah ini hingga tahun 2006 berupa udang beku 10.398.248 ribu US$, minyak kelapa 8.007.983 ribu US$, dan bungkil kopra 1.220.181 ribu US$. Banggai dikenal dengan penghasil kopra dan klepa sawit, sebagan besar produksi kopra dan kelapa sawit diserap oleh industri minyak kelapa mentah yang dikelola PT. Bukit Permata Hijau dan PT. Kurnia Luwuk Sejati. Hasil hutan pun tak kalah perannya bagi pertumbuhan ekonomi Banggai, pemasukan itu berasal dari kayu log dan selebihnya rotan,damar, kulit japari, dan kemiri.

Di sektor pariwisata, terdapat Suakamargasatwa Bangkiriang dimana burung Maleo dilindungi, tempat-tempat lainnya yang juga bisa menjadi andalan di antaranya Air terjun Hanga-Hanga, Lembuyan (suakamargasatwa bagi Anoa), Pulau Tikus yang terkenal dengan pasir putihnya, Keraton Banggai, dan Gua Liang.

Dari hasil pertanian dan perkebunan ini berdampak besar juga terhadap perdagangan. Perdagangan menjadi tumpuan mata pencaharian penduduk setelah pertanian. keberadaan infrastruktur berupa jalan darat yang memadai akan lebih memudahkan para pedagang untuk berinteraksi sehingga memperlancar baik arus barang maupun jasa, daerah ini juga telah Bandara Bubung yang terletak di Luwuk, Dua buah Pelabuhan utama yaitu Pelabuhan Bunta dan Pelabuhan Luwuk, serta terdapat berbagai sarana dan prasarana pendukung diantaranya sarana pembangkit tenaga listrik, air bersih, gas dan jaringan telekomunikasi.


Sumber Data:
Sulawesi Tengah Dalam Angka 2006 / 2007
(01-9-2007)
BPS Provinsi Sulawesi Tengah
Jl. Prof. Moh. Yamin No. 48, Palu 94114
Telp (0451) 483610, 483611
Fax (0451) 483612

Sumber :
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=7202

Sumber Gambar:
http://pilabeanku.files.wordpress.com/2008/10/kab-banggai2.jpg
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=7202